LES PRIVAT TK-SD-SMP-SMA-SMK-UMUM SURABAYA SIDOARJO GRESIK. MATEMATIKA, IPA, IPS, FISIKA, KIMIA, BIOLOGI, AKUNTANSI, EKONOMI, BAHASA INDONESIA, BAHASA INGGRIS, BAHASA ARAB, PKN, KOMPUTER. LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR SUPRAUNO: 08222 666 1656

UN Acuan Masuk PTN, Mungkinkah?

UN Acuan Masuk PTN, Mungkinkah?

RENCANA Mendiknas Mohammad Nuh untuk menjadikan hasil Ujian Nasional (UN) sebagai acuan masuk perguruan tinggi negeri (PTN) pada tahun 2012

, meski diperkirakan bakal memunculkan pro kontra namun demi sebuah proses untuk maksud menuju perbaikan mutu pendidikan nasional pantas disambut gembira. Sebagaimana dipaparkan Mendiknas di Surabaya, Minggu (12/12), dua formula untuk UN adalah komprehensifness dan kontiniutas. Komprehensifness kata mendiknas adalah UN merupakan perpaduan nilai prestasi kognitif, efektif dan psikomotorik. Komprehensifness berarti nilai UN tidak hanya mempertimbangkan prestasi semata, namun melihat nilai dari kelas 1 hingga lulus lalu dipadukan nilainya. Untuk kontiniutas tambah mendiknas, dari hasil UN di SMA akan dapat dipakai untuk PTN yang ditargetkan mulai terlaksana tahun ajaran mendatang.


Meski sejak UN dilaksanakan lima tahun lalu di tanah air keberadaannya selalu menuai protes, namun ternyata pemerintah tetap bertekad untuk tetap melaksanakannya bahkan kemudian memformulasikan sebagai salah satu sistem masuk PTN pada 2012. Sebagai sebuah sistem tentunya ada plus minus, pemerintah pun nampaknya sadar betul bahwa setiap saat sistem UN itu harus terus diperbaharui untuk menuju sebuah kesempurnaan, terutama menuju pendidikan berkualitas sebagaimana diidam-idamkan bangsa ini. Lalu muncul pertanyaan, mungkinkah UN jadi acuan masuk PTN?jawabnya tentu bisa, terutama bila pemerintah memperbaiki sistem pendidikan kita mulai dari jenjang SD, SMP sampai SMA sehingga kualitas pendidikan bisa merata tidak hanya diperkotaan tapi juga sampai ke pelosok desa.

Dengan adanya perbaikan sistem pendidikan secara menyeluruh, sehingga UN sebagai "momok" menakutkan bisa dihilangkan dan masyarakat merasa yakin akan niat pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan di tanah air. Sebab sejak diberlakukan sekitar lima tahun silam hingga saat ini masih banyak masyarakat berpendapat harus dihapuskan karena lebih banyak "mudharat" daripada manfaatnya. Menakutkan karena melalui sistem ini ternyata banyak anak didik yang gagal menyelesaikan pendidikannya. Di Sumatera Utara saja diawal-awal pelaksanaan UN tercatat dari 382.587 peserta UN pada saat itu untuk jenjang pendidikan, SMP, Tsanawiyah, SMA, Aliyah dan menengah kejuruan peserta UN yang tidak lulus mencapai 47.245 siswa atau sekitar 12,35 persen. Begitu pula khusus di kota Medan, dari 81.715 siswa yang ikut UN untuk jenjang pendidikan yang sama peserta yang dinyatakan tidak lulus 12.224 siswa. Sedangkan yang lulus hanya 69.491 siswa.

Kabar banyak siswa tak lulus ujian akhir nasional 2005 yang hampir merata di tiap daerah itu sesungguhnya sangat memprihatinkan kita semua. Meskipun bagi peserta UN yang tak lulus diberikan kesempatan mengikuti UN tahap II. Berbagai pertanyaan muncul saat itu. Apanya yang salah?. Padahal khusus bagi para siswa SMA sederajat, UN merupakan penentu bagi mereka dalam merintis masa depannya kelak menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi. Dari kelemahan itu akhirnya banyak sekolah memperbaiki sistem belajar dan mengajar kepada siswa maupun para gurunya. Kalau yang masih bernuansa positif tentunya pantas diberi nilai plus, namun bagi sekolah yang masih menggunakan "tim sukses" untuk mengkatrol nilai anak didiknya agar bisa lulus, tentunya akan sangat merugikan bukan saja bagi pendidikan nasional umumnya, tapi juga dinilai sebagai tindakan tidak bermoral yang akan meruntuhkan nilai-nilai terkandung dalam pendidikan itu sendiri. Namun syukurlah seiring perjalanan waktu pemerintah terus memperbaiki sistem pendidikan sehingga nilai rata-rata peserta UN semakin membaik.

Terlepas dari plus minus hasil UN sebelum ini pemerintah juga diingatkan agar terus mengevaluasi sistem yang digunakan dalam menentukan nilai kelulusan siswa dalam UN. Hal itu mengingat masih banyak "ruang" bagi pihak-pihak tertentu untuk mengakal-akali kelemahan sistem pendidikan yang berjalan itu untuk kepentingan dan keuntungan pribadi sehingga memunculkan keprihatinan kita. Misalnya dengan membentuk "tim sukses" untuk mengkatrol nilai ujian UN dan mengawal raport anak didik sebagai syarat masuk PTN, meski tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya. Dampak yang sudah pasti tentu akan dirasakan langsung oleh anak bersangkutan yang diberi bobot tidak sesuai dengan kemampuannya, terutama setelah dia berada di jenjang perguruan tinggi yang menggunakan sistem drop out (DO). Ini tentunya satu kelemahan bila UN jadi acuan masuk PTN dan harus diantisipasi, karena calon mahasiswa yang lulus masuk PTN tidak sesuai sehingga mengorbankan calon lain.
LBBSUPRAUNO
Terima kasih atas kunjungan anda. Lembaga bimbingan belajar suprauno adalah lembaga pendidikan yang fokus terhadap pembelajaran siswa agar menjadi pribadi yang unggul dan berprestasi.Dan terima kasih telah membaca artikel yang berjudul UN Acuan Masuk PTN, Mungkinkah?.
Bagi Artikel!

Artikel Terkait

Comments
0 Comments

belajar